3 Des 2010

Bukan Puisi


Mimpi ‘Tak Bertuan

Satu malam saat kuputuskan melanjutkan sekolahku
Kubuai mereka dengan deru asa cita-citaku
Ikut andil saat mulut dunia berbicara
Tak terbatas negara hingga benua
Sampai kuinjakkan kakiku di Eropa

Namun…
Aku hanyalah seorang anak yang tidak ingin menjadi anak yang durhaka
Aku hanyalah seorang anak yang seperti anak – anak lainnya yang bercita-cita
Aku hanyalah seorang anak yang ingin berbakti kepada ibu bapakku
Dan aku hanyalah seorang anak yang ingin  mentaati apa yang ibu bapakku mau

Apakah karna aku seorang anak wanita ?

Hakku seperti tergarisi tak terlangkangkahi
Cita-citaku seperti terbatasi riskan kudapati
Langkahku berputar disudut rumah
Menyapa kesunyian yang ramah

Hatiku tak sekokoh Eiffel di jantung Paris
Putaran kincir angin di Belanda
Kemegahan Kuil Parthenon di Yunani
Keanggunan kota Vanesia di Roma
Sketsa Mereka berderu di dadaku
Membuai hasrat dan mimpiku

Hati kecilku meronta ‘tak berdaya
Bisikannya merobek malam yang tenang
Selirih do’a yang kupanjatkan
Dengan air mata berlinang

Tercekat gelisahku meradang
Menyesaki rongga kerongkongan
Butir air mata tertahan senyumku
Kuangungkan pilihan ibu bapakku                                                                

‘Tak ingin mengecewakan
Atas peluh yang telah tergadaikan
Demi baktiku demi restu sebuah asa
Aku manut kepada mereka
                       
  Indramayu, 17 November 2010
                                 



Bila gue harus menyederhankan asa ini yang tertahan, gue jalani semua dengan keikhlasan

2 komentar:

mochammadaprianto mengatakan...

ibumu akan tersenyum saat kamu bisa mewujudkannya

triyani mengatakan...

makasih ya prii :D
sukses buat kamu juga profesor :D