11 Okt 2010

Kematian Itu Terjadi Begitu Cepat

Hanya berselang 1 jam sebelum kejadian naas tersebut terjadi.

Selesai gue solat magrib tadi, sebelom gue lepas mukenah gue, gue sempet merhatiin kucing cowo tetangga dari jendela kamar gue yang belom gue tutup. Tu kucing lagi asik duduk jilatin bulunya dengan anggun di bawah sinar lampu *tsaah. . .

Lama gue mandangin tu makhluk yang (kadang) sangat menyebalkan karna suka ngodain kucing betina gue :@

Lama makin lama gue nikmatin pemandangan kucing (menyebalkan) itu dan gue baru sadar kalau bulu tu kucing indah di bawah sinar ampu dan sorot matanya semakin terlihat tajam. Sadar kali gue liatin, tu pejantan balik ngeliatin gue lama lalu dengan cueknya kembali jilatin bulunya.


Mungkin kalau tu kucing bisa ngomong, dia bakal banggain tu bulunya ke gue dan teriak, " hey, elo gak punyakan bulu indah kuning kaya ginikan ?!!" =='
cuma pikiran gue ajah kok, sorry*


Gue senyum ke tu kucing dan jujur bilang (dalam hati) gue kalau bulunya bagus, badannya gemuk, keliatan gagah untuk ukuran kucing pejantan :D

Firasat gue masih baik-baik aja, menganggap pertemuan gue sore tadi seperti biasanya. Tu kucing bakal masuk rumah gue nanti, nyolong ikan, ribut sama kucing betina gue lagi dan gue akan banjur sama air.

Usai isya tepat di depan rumah gue suara benda berat ambruk lalu orang-orang ramai dateng dan mendekati lelaki yang terjatuh dari motornya.

Dia cuma kaget dan luka lecet tapi sesosok makhluk kecil berbulu kuning terkapar dengan sisa-sisa napasnya seperti meminta pertolongan orang-orang yang ramai mengabaikannya. Jeritannya makin cepat, lantang dan keras seperti menahan sakit yang sedang dirasanya.
Seseorang menyadari suara kesakitan makhluk berbulu itu, namun dia hanya diam - begitu juga gue yang gak berani mendekat.


Suara kucing itu makin cepat dan keras sembari menggerakkan cepat ekornya yang sudah berlumur darah, lalu perlahan ekornya diam. Jeritannya tak perlahan menghilang kemudian hening.






Kucing gagah berbulu kuning yang baru saja ku sanjung mati dengan tragisnya.

Tidak ada komentar: