2 Mei 2010

Mengakhiri Keyakinan


Terakhir aku memang begitu kecewa denganmu, tentangmu di mataku.
Masih tentangmu Cinta, hingga malam ini aku masih membicarakanmu.
Membiarkan hatiku dan otakku bergulat untukmu.

Aku mulai menghindari setiap langkah dari jarakmu, tempatmu juga melihatmu.
Sadarkah aku melakukannya ?
Semua sudah terrencana dalam otakku, meski hatiku selalu meronta.
Angan yang berlari, mimpi yang luas. Semua terbangun dan terjatuh dalam waktu yang sama.

Aku baru sekali mundur dari gerilyaku selama ini, tak ada kepastian
seperti hatiku yang masih bimbang. Tak bisa kubohongi dengan diam.
Semakin diam semakin lekat aku dibuatmu.

Aku pernah berjanji untuk menunggu kepastian darimu,
walau hal buruk sekalipun.Aku berjanji untuk keyakinanku, Cinta.



Sabtu malam kemarin aku bahkan tak menghadiri undangan temanku
yang tentunya sekaligus temanmu.
Acara makan-makan dan kumpul bareng yang menghadirkanmu
sebagai salah satu tamunya.
Mungkin dihari sebelumnya aku begitu girang tahu hal ini, tapi
detik sekalipun bisa merubah segalanya.

Aku batal untuk datang ke rumahnya, tak ada penyesalan sedikitpun
untuk kesempatan yang mungkin tak tersebut kedua.

Aku khawatir hal ini sementara, sayangnya aku memang tak pernah paham
dengan perasaanku sendiri yang terombang-ambing.
Bagimu memang biasa karna kau tak mengenalku.

Begitu melo drama aku tuliskan hal ini untukmu,pentingkah dirimu ?
Lalu mengapa ? Apa sekalipun kau pernah membaca cerita ini ?
Aku tak menggilaimu, juga tidak mengagumimu.

Perasaan lain yang memberikan aku inspirasi untuk membentuk sketsa mu
lewat crita, bait kata dan sedikit deskripsi tentangmu.
Aku seperti membangun dirimu disini, membentuk perasaanmu, karaktermu,
hal-hal yang aku ingin darimu.

Mungkin bukan akhir hanya saja sebuah penghindaran.